Penelitian merupakan upaya dikerjakan untuk memperoleh keterangan (Hidayat, 1996 dalam Notohadikusumo pada makalah semiloka). Kemudian menurut pakar zimbabwe, Chifumbe Chintu, mengungkapkan bahwa penelitian secara jelas sebagai seni menanyakan dan menjawab pertanyaan (Notohadikusumo makalah semiloka). Hal ini menunjukkan bahwa penelitian merupakan sesuatu yang menimbulkan pertanyaan karena belum jelas untuk dicari keterangan sebagai jawabannya. Oleh karena itu, seorang akademisi pun harus melaksanakan sebuah penelitian sebagai tugas akhir dari masa perkuliahannya. Anggap saja sebagai feed back dari ilmu yang sudah diterima selama sekian tahun perkuliahan.
Begitu pula dengan nobiy.
Penghujung tingkat perkuliahan sama dengan mulai melakukan penelitian.
Terhitung sejak awal Oktober 2011 resmi bergabung dengan salah satu penelitian dosen untuk tugas akhir. Sub bidang dan dosen pembimbing benar-benar 2 hal yang sudah menjadi keinginan tapi setan galau tetap saja menghantui dengan berbagai alasan
Awal bulan November ini tahap keberlanjutan penelitian sudah memasuki bab 1, bagian terberat adalah hampir semuanya. Tidak. Ternyata semuanya. Bukannya tidak berkompeten dalam menyusun latar belakang dan kawan-kawannya, hanya saja muatan yang harus disusun tidaklah main-main, asal susun dan hanya omong kosong belaka. setidaknya itu pikiran saya. Dan ini yang menghantui pikiran saya berhari-berhari. Berulang kali layar laptop suda menampilkan file bab 1 dengan outline yang telah terketik rapi tapi selalu mendadak stagnant untuk mulai mengisi muatannya.
*sigh
Berulang kali menarik napas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan tetap saja rasanya sama. Perasaan tidak tenang.
Saat ini Alhamdulillah progress sudah lebih baik dari sebelumnya, hanya saja ketika menyusunnya semua referensi menunjukkan banyaknya penjabaran bahkan untuk sebuah latar belakang. Saya sering berpikir, apa saya yang terlalu bodoh untuk berkata-kata dan membuat apa yang sesuai dengan batasan yang harus ditulis sesuai pikiran atau mereka yang terlalu cerdas untuk menuangkan pikirannya dalam sebuah paragraf. Belum lagi hambatan samping lainnya, semacam laporan kp dan bahan uts yang isinya materi hapalan semua. good
what a joke
it influence my job
Kemudian saya teringat dengan prinsip pada beberapa semester yang silam. Setiap akan mengumpulkan tugas besar terkadang tidak sengaja membandingkan ketebalan hasil dengan orang lain bahkan kelompok lain untuk tugas kelompok. Pada kenyataannya milik saya sering menjadi yang tertipis diantara yang lain. Fine. Tanamkan bahwa:
"Kuantitas ≠ kualitas ≠ nilai tinggi"
Bukan men-judge bahwa pekerjaan orang lain yang hasilnya lebih tebal itu tidak berkualitas. bukan. pernyataan diatas justru merupakan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi itu memang harus dari kualitasnya dan itu tidak selamanya ditunjukkan dengan ketebalan hasil kerja. So, ini merupakan bentuk motivator saya karena jarang sekali mengerjakan sesuatu dengan kuantitas yang melebihi rata-rata teman sekelas.
Mungkin karena orientasi saya memang bukanlah mendapat nilai tertinggi tapi bagaimana saya mengerjakan sesuatu sesuai pemahaman agar terserap manfaatnya untuk kemudian hari. Kenyataannya kepuasan itu tidak terukur dari setinggi-tingginya nilai yang diperoleh karena berapapun nilai yang didapat, ketika kita merasa puas dengan pekerjaan kita maka nilai itu akan terasa tinggi dengan sendirinya. Fine. it's work :)
Baiklah saatnya memusatkan pikiran di akhir tahun. Fighting all.!!
Happy year-end, happy research ^^
Yap. Bismillah BAB 1^^
ReplyDeleteganbarimasho ^^
ReplyDelete